Leadership & Career15 menit baca

The Hard Thing About Hard Things: Building a Business When There Are No Easy Answers

oleh Ben Horowitz

Tidak ada rumus rahasia untuk hal-hal tersulit dalam membangun bisnis. Yang ada cuma pilihan, dan keberanian untuk tetap berdiri setelah memilih.

Perusahaan Ben Horowitz hampir kehabisan uang. Karyawan terbaiknya mulai keluar satu per satu. Pelanggan berhenti membayar.

Setiap malam, dia terbangun dengan satu pikiran yang sama: apakah besok perusahaan ini masih ada?

Horowitz menyebut fase ini "the Struggle", masa ketika kegagalan yang mengintai menelan setiap pikiran dan sensasi dalam hidupmu, siang maupun malam.

Dia bukan pengusaha gagal yang menulis buku sebagai penebusan. Dia akhirnya menjual perusahaannya, Opsware, ke Hewlett-Packard senilai 1,6 miliar dolar, lalu mendirikan salah satu firma modal ventura paling berpengaruh di Silicon Valley, Andreessen Horowitz.

Tapi buku ini bukan cerita soal kemenangan. Justru sebaliknya.

Kebanyakan buku bisnis mengajari Anda cara menang di masa baik, cara membangun keunggulan kompetitif, cara menetapkan visi besar. Horowitz memilih fokus yang jarang disentuh buku lain: bagaimana bertahan di masa-masa terburuk, ketika tidak ada jawaban mudah dan setiap pilihan terasa seperti memilih dari deretan opsi buruk.

Baginya, di situlah karakter seorang pemimpin sebenarnya diuji, bukan saat semua berjalan lancar.


Bagian 1: The Struggle, Fase yang Tidak Ada di Buku Motivasi Manapun

Kebanyakan pendiri startup memulai dengan antusiasme tanpa batas. Langit terbuka, kemungkinan tak terbatas, sukses terasa sudah pasti.

Lalu realita menghantam.

Ketika Semua Rencana Tidak Berjalan Sesuai Harapan

Horowitz menggambarkan the Struggle sebagai momen ketika traksi yang diharapkan tidak kunjung datang, karyawan kunci mulai pergi, dan segalanya terasa mengarah ke kegagalan yang tak terelakkan.

Dia tidak menawarkan rumus ajaib untuk melewati fase ini. Justru sebaliknya, dia jujur bahwa tidak ada jalan pintas. Yang bisa dilakukan hanyalah terus bergerak maju, satu keputusan pada satu waktu, tanpa berpura-pura semuanya baik-baik saja di depan tim.

Kejujuran sebagai Strategi Bertahan

Nasihat Horowitz cukup keras, jangan menyerah, jangan biarkan tekanan menghancurkan Anda, dan yang paling penting, jangan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Bagikan kabar buruk ke tim inti Anda, karena transparansi soal betapa sulitnya keadaan justru menciptakan budaya di mana masalah benar-benar bisa dipecahkan bersama, bukan disembunyikan sampai terlambat.


Bagian 2: Peacetime CEO vs Wartime CEO, Dua Mode yang Harus Dikuasai Pemimpin yang Sama

Apakah gaya kepemimpinan yang sama cocok untuk semua situasi perusahaan?

Horowitz bilang, tidak. Dan inilah salah satu konsep paling berpengaruh dari bukunya.

Dua Musim yang Menuntut Pendekatan Berbeda

Peacetime, ketika perusahaan Anda punya keunggulan signifikan atas kompetitor, adalah masa untuk memperluas pasar, mendorong kreativitas, dan memberdayakan karyawan mengeksplorasi ide-ide baru dengan lebih leluasa.

Wartime adalah kebalikannya, saat kelangsungan hidup perusahaan sendiri sedang dipertaruhkan, entah karena kompetitor mengancam, pasar berubah drastis, atau internal perusahaan berantakan. Di masa ini, keputusan harus lebih cepat, kontrol harus lebih ketat, dan toleransi terhadap kesalahan jauh lebih rendah dibanding masa damai.

Bukan berarti ini dua orang pemimpin berbeda. Ini dua mode yang harus bisa diaktifkan pemimpin yang sama, tergantung kondisi nyata yang dihadapi perusahaannya saat itu, bukan berdasarkan gaya kepemimpinan favorit yang sudah nyaman dipakai.


Bagian 3: Management Debt, Utang yang Tidak Terlihat Sampai Tiba-tiba Meledak

Anda menaruh dua orang hebat dalam satu peran sekaligus, berharap keduanya saling melengkapi. Kelihatannya solusi cerdas untuk mengisi kekosongan cepat.

Horowitz menyebut ini management debt, jalan pintas manajemen yang terasa menguntungkan sekarang, tapi harus dibayar mahal nanti.

Tiga Cara Umum Perusahaan Menciptakan Utang Ini

Menaruh dua orang dalam satu peran yang sama membingungkan seluruh tim soal siapa yang sebenarnya punya otoritas. Memberi kompensasi berlebih kepada karyawan yang mengancam resign menciptakan perilaku politis, karyawan lain lama-lama belajar bahwa cara mendapat promosi adalah dengan mengancam keluar, bukan lewat kinerja nyata.

Tidak punya proses evaluasi kinerja formal berarti ketika seseorang ternyata berkinerja buruk, Anda tidak bisa bertindak cepat karena tidak ada dasar yang jelas dan terdokumentasi.

Seperti utang finansial, management debt bisa berguna dalam dosis kecil dan terukur. Masalahnya muncul ketika perusahaan terus menumpuknya tanpa pernah membayarnya, sampai akhirnya bunga dari utang itu jauh lebih mahal dari manfaat jangka pendek yang pernah didapat.


Bagian 4: Memecat dengan Bermartabat, Bagian Tersulit yang Jarang Diajarkan

Tidak ada kelas bisnis yang benar-benar mengajarkan cara memecat orang dengan baik. Kebanyakan pemimpin belajarnya lewat trial and error yang menyakitkan.

Horowitz membagikan pelajaran yang dia pelajari dengan cara paling sulit, dari pengalaman langsung memecat karyawan, termasuk teman dekat, saat perusahaannya berjuang bertahan hidup.

Kejelasan Lebih Baik Dibanding Kebaikan yang Setengah-setengah

Ketidakjelasan saat memecat seseorang, seperti alasan yang samar-samar atau harapan palsu tentang kemungkinan kembali, justru lebih menyakitkan dibanding kejujuran langsung tentang apa yang terjadi dan kenapa.

Horowitz juga menekankan pentingnya menjaga martabat orang yang dipecat di depan tim yang tersisa. Cara Anda memperlakukan orang yang pergi, kata Horowitz, adalah sinyal paling jelas bagi orang yang bertahan tentang jenis pemimpin macam apa Anda sebenarnya.


Bagian 5: Membangun Budaya yang Bertahan Melewati Masa Sulit

Budaya perusahaan sering dianggap sebagai hal lunak, sesuatu yang menyenangkan untuk dipajang di poster kantor tapi tidak benar-benar penting.

Horowitz tidak sependapat. Baginya, budaya adalah salah satu aset paling krusial yang menentukan apakah perusahaan bisa bertahan melewati masa-masa tersulitnya.

Nilai yang Diuji Justru Saat Keadaan Memburuk

Seiring perusahaan tumbuh, budaya membantu menjaga nilai-nilai inti tetap hidup, membuat perusahaan jadi tempat kerja yang lebih baik, sekaligus membantu performa jangka panjangnya.

Tapi nilai budaya yang sebenarnya baru terlihat justru saat perusahaan sedang berjuang, bukan saat semuanya berjalan mulus. Perusahaan yang budayanya cuma slogan kosong akan runtuh berantakan begitu tekanan datang, sementara perusahaan dengan budaya yang benar-benar dijalankan justru makin solid saat diuji krisis.


Pelajaran untuk Hari Ini

1. Jujurlah pada Tim Inti Anda Saat Keadaan Sedang Buruk Menyembunyikan kabar buruk demi terlihat kuat justru membuat tim tidak siap membantu memecahkan masalah bersama Anda.

2. Kenali Mode Kepemimpinan yang Dibutuhkan Situasi Anda Sekarang Evaluasi apakah perusahaan Anda sedang dalam masa peacetime atau wartime, dan sesuaikan gaya pengambilan keputusan Anda sesuai kondisi itu.

3. Selesaikan Management Debt Sebelum Menumpuk Terlalu Besar Kalau Anda mengambil jalan pintas manajemen demi kecepatan, buat rencana jelas kapan Anda akan membenahi struktur dan proses yang sebenarnya.

4. Jaga Martabat Orang yang Anda Pecat Cara Anda menangani pemutusan hubungan kerja mengirim sinyal kuat ke seluruh tim yang tersisa tentang jenis pemimpin macam apa Anda sebenarnya.


Penutup

The Hard Thing About Hard Things tidak menawarkan formula sukses yang rapi. Horowitz sendiri mengakui itu di awal buku, karena baginya, tidak ada bisnis yang sempurna, dan seberapa matang pun perencanaan Anda, kegagalan-kegagalan kecil pasti akan terjadi.

Yang membuat buku ini berbeda dari kebanyakan buku bisnis, Horowitz tidak menyembunyikan sisi buruk dari perjalanannya. Dia membagikan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dia buat, keputusan tersulit yang harus dia ambil, dan situasi-situasi mengerikan yang dia hadapi tanpa jalan keluar yang jelas.

Di dunia startup yang terus dipenuhi cerita sukses yang dipoles rapi di media, buku ini terasa seperti napas jujur yang jarang ditemukan, mengingatkan bahwa di balik setiap kisah sukses besar, ada periode panjang penuh keraguan dan hampir menyerah yang jarang diceritakan.

Pertanyaan untuk Anda, ketika situasi tersulit dalam pekerjaan atau bisnis Anda datang, apakah Anda akan memilih menyembunyikannya demi terlihat kuat, atau menghadapinya secara terbuka bersama tim yang mempercayai Anda?


Tentang Buku Asli

The Hard Thing About Hard Things: Building a Business When There Are No Easy Answers terbit tahun 2014, ditulis oleh Ben Horowitz, pengusaha teknologi yang mendirikan dan memimpin Opsware, perusahaan software enterprise yang diakuisisi Hewlett-Packard senilai 1,6 miliar dolar tahun 2007. Horowitz kemudian mendirikan Andreessen Horowitz bersama Marc Andreessen, salah satu firma modal ventura paling terkemuka di Silicon Valley.

Buku ini banyak dipuji karena kejujurannya yang jarang ditemukan di buku bisnis kebanyakan, dengan Horowitz secara terbuka membahas kegagalan dan keputusan tersulit yang pernah dia ambil, alih-alih hanya memamerkan kisah suksesnya. Beberapa pembaca mencatat bahwa bagian akhir buku terasa agak repetitif dibanding bagian awal yang lebih personal dan mengalir.

Buku ini paling cocok dibaca oleh founder startup, CEO, dan siapa pun yang sedang atau akan menghadapi masa-masa sulit dalam memimpin sebuah organisasi, terutama yang lelah dengan buku bisnis yang cuma bicara soal strategi di masa baik. Cari versi lengkapnya untuk mendalami bagian-bagian soal proses rekrutmen, manajemen talenta, dan cerita detail di balik penjualan Opsware yang tidak sempat dibahas mendalam di sini.

Selamat! Kamu telah menyelesaikan ringkasan ini.
Baca Buku Lainnya →

Buku serupa

Cover Shape Up: Stop Running in Circles and Ship Work that Matters
Leadership & Career

Shape Up: Stop Running in Circles and Ship Work that Matters

oleh Ryan Singer

Sprint dua minggu Anda berakhir. Tapi fiturnya belum selesai, jadi Anda memindahkannya ke sprint berikutnya. Lagi. Dan lagi. Sampai tidak ada yang ingat lagi kapan sebenarnya proyek itu mulai.

15 min baca
Cover Extreme Ownership: How U.S. Navy SEALs Lead and Win
Leadership & Career

Extreme Ownership: How U.S. Navy SEALs Lead and Win

oleh Jocko Willink dan Leif Babin

Di medan perang, tidak ada alasan untuk gagal. Yang ada cuma pemimpin yang mau mengakui kesalahan, atau pemimpin yang mencari kambing hitam.

15 min baca
Cover The Making of a Manager: What to Do When Everyone Looks to You
Leadership & Career

The Making of a Manager: What to Do When Everyone Looks to You

oleh Julie Zhuo

Suatu pagi Anda bangun dan tiba-tiba semua orang menganggap Anda tahu jawabannya. Padahal seminggu lalu, Anda sendiri masih bertanya-tanya hal yang sama ke atasan Anda.

15 min baca
Cover Inspired: How to Create Tech Products Customers Love
Leadership & Career

Inspired: How to Create Tech Products Customers Love

oleh Marty Cagan

Tim engineering terbaik pun bisa habiskan setahun membangun sesuatu yang sempurna secara teknis, dan tidak ada satu pun pelanggan yang menginginkannya.

15 min baca