Leadership & Career15 menit baca

The Making of a Manager: What to Do When Everyone Looks to You

oleh Julie Zhuo

Suatu pagi Anda bangun dan tiba-tiba semua orang menganggap Anda tahu jawabannya. Padahal seminggu lalu, Anda sendiri masih bertanya-tanya hal yang sama ke atasan Anda.

Julie Zhuo berumur dua puluh lima tahun ketika atasannya di Facebook memanggilnya ke sebuah ruangan.

Dia dipromosikan jadi manajer.

Bukannya senang, dia justru panik. Tidak ada pelatihan resmi. Tidak ada buku panduan. Yang dia punya cuma rasa tidak yakin, dan pertanyaan yang terus berputar di kepala: apa sebenarnya yang membuat seseorang jadi manajer yang baik?

Bertahun-tahun kemudian, setelah memimpin tim desain produk Facebook yang tumbuh dari segelintir orang jadi ratusan orang, Zhuo menulis buku ini untuk versi dirinya yang dulu, sekaligus untuk ribuan orang lain yang mengalami kepanikan serupa saat pertama kali dipromosikan.

Yang membuat buku ini berbeda dari kebanyakan buku manajemen, Zhuo tidak berpura-pura semua jawabannya sudah dia temukan sejak awal. Dia jujur soal kesalahan-kesalahan yang dia buat, momen-momen dia merasa jadi penipu di depan timnya sendiri, dan proses panjang belajar dari nol yang sebenarnya dialami hampir semua manajer baru, meski jarang diakui terbuka.

Premis dasarnya, manajer hebat tidak dilahirkan, mereka dibentuk lewat latihan, refleksi, dan kesalahan yang terus diperbaiki seiring waktu.


Bagian 1: Tiga Tuas yang Dipegang Setiap Manajer, Purpose, People, Process

Apa sebenarnya pekerjaan seorang manajer? Kalau Anda menjawab "mengawasi orang lain bekerja", Zhuo bilang, itu jauh dari lengkap.

Bukan Menambah, Tapi Melipatgandakan

Zhuo menjelaskan, seorang individual contributor punya efek aditif terhadap hasil kerja, sedangkan manajer yang baik punya efek pengali terhadap hasil kerja timnya secara keseluruhan, lewat tiga tuas: purpose, alasan kenapa pekerjaan ini penting; people, orang yang tepat di peran yang tepat; dan process, sistem kerja yang membuat semua orang bisa berkolaborasi secara efisien.

Analogi favorit Zhuo untuk menjelaskan ini adalah konduktor orkestra. Konduktor tidak memainkan satu pun alat musik sendiri, tapi tanpanya, puluhan musisi berbakat bisa saja bermain kacau tanpa arah yang sama.

Kesalahan yang sering dilakukan manajer baru, terus bekerja seperti individual contributor, turun tangan mengerjakan detail teknis sendiri, alih-alih fokus memastikan ketiga tuas ini berjalan baik untuk seluruh timnya.


Bagian 2: Tiga Bulan Pertama, Masa Transisi yang Paling Rentan

Zhuo ingat betul betapa canggungnya bulan-bulan pertama menjadi manajer. Rekan kerja yang dulu setara, tiba-tiba harus dia beri arahan dan evaluasi.

Keuntungan Tersembunyi dari Menjadi Manajer Baru

Meski penuh keraguan, Zhuo mendorong manajer baru untuk memanfaatkan keunggulan unik di masa awal ini, seperti energi dan perspektif segar yang belum terkontaminasi kebiasaan lama, serta kesediaan untuk bertanya hal-hal dasar tanpa merasa harus terlihat sudah tahu segalanya.

Dia juga jujur soal tantangan nyata di fase ini, termasuk rasa tidak nyaman harus mengevaluasi kinerja teman dekat, atau kebingungan menentukan seberapa jauh dia harus terlibat detail pekerjaan timnya.

Zhuo menyarankan manajer baru mencari dukungan aktif, baik dari mentor, sesama manajer baru, atau bahkan tim mereka sendiri, alih-alih berusaha menyelesaikan semua kebingungan ini sendirian di dalam kepala.


Bagian 3: Feedback sebagai Coaching Berkelanjutan, Bukan Cuma Review Tahunan

Kebanyakan orang menganggap feedback itu identik dengan review kinerja tahunan yang formal dan agak menegangkan.

Zhuo mendorong pergeseran cara pandang yang cukup besar di sini.

Memberi Umpan Balik Sesegera Mungkin, Bukan Menyimpannya Sampai Momen Formal

Menurut Zhuo, manajer hebat berperan seperti pelatih yang terus membantu anggota timnya berkembang lewat percakapan rutin dan spesifik, bukan menunggu satu momen besar setiap enam bulan atau setahun sekali untuk menyampaikan semua yang terpendam.

Feedback yang efektif, menurutnya, harus spesifik, disampaikan sedekat mungkin dengan momen kejadiannya, dan fokus pada perilaku yang bisa diperbaiki, bukan menyerang karakter orang secara personal.

Zhuo juga menekankan pentingnya psychological safety, ruang aman di mana anggota tim merasa nyaman menyampaikan ketidaksetujuan atau kekhawatiran, tanpa takut dihukum atau dinilai negatif karena bersuara jujur.


Bagian 4: Rapat yang Punya Tujuan Jelas, Bukan Sekadar Ritual Kalender

Berapa banyak rapat di kalender Anda minggu ini yang sebenarnya bisa diringkas jadi satu pesan singkat?

Zhuo bilang, terlalu banyak rapat gagal karena tidak punya tujuan yang benar-benar jelas sejak awal.

Kejelasan Tujuan Sebelum Kejelasan Agenda

Sebelum mengundang siapa pun ke rapat, Zhuo mendorong manajer untuk bertanya lebih dulu, apa hasil konkret yang ingin dicapai dari rapat ini, lalu mengundang hanya orang-orang yang benar-benar dibutuhkan untuk mencapai hasil itu.

Selama rapat berlangsung, manajer bertanggung jawab menjaga agar percakapan tetap fokus pada tujuan awal, sekaligus memastikan semua orang yang hadir punya kesempatan untuk berkontribusi, bukan didominasi satu atau dua suara paling lantang saja.

Rapat yang baik, menurut Zhuo, terasa efisien dan jelas arahnya, sementara rapat yang buruk sering terasa seperti buang waktu karena tidak ada yang benar-benar tahu kenapa rapat itu diadakan sejak awal.


Bagian 5: Merekrut sebagai Prioritas Tertinggi Saat Tim Sedang Bertumbuh

Di organisasi yang sedang tumbuh cepat, Zhuo menegaskan satu hal yang menurutnya sering diremehkan manajer baru, tidak ada pekerjaan lain yang dampaknya sebesar keputusan merekrut orang yang tepat.

Satu Kesalahan Rekrutmen Bisa Berdampak Berlipat

Zhuo membagikan pengalamannya sendiri, termasuk momen dia merekrut seseorang meski instingnya ragu, dan hasilnya ternyata mengejutkan positif, sekaligus momen sebaliknya di mana keputusan rekrutmen yang buruk membawa dampak riak yang jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sebelumnya.

Dia mendorong manajer untuk terlibat aktif dan penuh perencanaan dalam proses rekrutmen, bukan menyerahkan sepenuhnya ke tim HR atau proses otomatis, karena kualitas orang yang bergabung akan sangat menentukan budaya dan kapasitas tim ke depannya.

Semakin senior posisi seorang manajer, Zhuo menekankan, semakin penting pula kemampuan people management-nya, karena dampak keputusannya soal orang akan terasa jauh lebih besar dibanding saat dia masih memimpin tim kecil di awal kariernya.


Pelajaran untuk Hari Ini

1. Fokus pada Tiga Tuas: Purpose, People, dan Process, Bukan Mengerjakan Semua Sendiri Alih-alih turun tangan mengerjakan detail teknis, pastikan tim Anda paham kenapa pekerjaan mereka penting, siapa yang tepat mengerjakannya, dan bagaimana sistem kerjanya berjalan lancar.

2. Beri Feedback Sedekat Mungkin dengan Momen Kejadiannya Jangan tunggu review tahunan. Feedback yang spesifik dan tepat waktu jauh lebih membantu perkembangan anggota tim Anda.

3. Tentukan Tujuan Konkret Sebelum Mengundang Orang ke Rapat Kalau Anda tidak bisa menjelaskan hasil yang diharapkan dari sebuah rapat, pertimbangkan apakah rapat itu benar-benar perlu diadakan.

4. Perlakukan Rekrutmen sebagai Prioritas Utama, Bukan Tugas Sampingan Terutama saat tim Anda sedang tumbuh, luangkan waktu dan perhatian penuh untuk memastikan orang yang bergabung benar-benar tepat untuk timnya.


Penutup

The Making of a Manager tidak menawarkan rumus ajaib untuk jadi pemimpin sempurna dalam semalam. Justru sebaliknya, Zhuo menulisnya sebagai pengakuan jujur bahwa perjalanan menjadi manajer yang baik penuh dengan kesalahan, keraguan, dan proses belajar yang tidak pernah benar-benar selesai.

Yang membuat buku ini terasa berbeda dari buku manajemen kebanyakan, Zhuo menulis dari sudut pandang seseorang yang benar-benar mengalami kepanikan di masa awal karier manajerialnya, bukan dari jarak aman seorang konsultan yang mengamati dari luar.

Di era ketika lebih banyak engineer dan individual contributor dipromosikan jadi manajer di usia muda tanpa persiapan formal, kejujuran dan kesederhanaan pendekatan Zhuo terasa jadi pengingat yang menenangkan, bahwa perasaan tidak yakin di awal jadi manajer itu wajar, dan bisa diperbaiki lewat latihan yang konsisten, bukan bakat bawaan yang harus sudah dimiliki sejak awal.

Pertanyaan untuk Anda, dari tiga tuas purpose, people, dan process, mana yang menurut Anda paling kurang mendapat perhatian di tim yang sedang Anda pimpin sekarang?


Tentang Buku Asli

The Making of a Manager: What to Do When Everyone Looks to You terbit tahun 2019, ditulis oleh Julie Zhuo, mantan Vice President of Product Design di Facebook yang mulai memimpin tim sejak usia dua puluh lima tahun dan akhirnya membawahi tim desain produk beranggotakan ratusan orang.

Buku ini banyak dipuji karena kejujuran dan gaya bertuturnya yang personal, jarang ditemukan di buku manajemen kebanyakan yang cenderung normatif. Zhuo secara terbuka membagikan kesalahan dan keraguan yang dia alami sendiri, membuat buku ini terasa lebih relatable, terutama bagi pembaca yang baru pertama kali dipromosikan jadi manajer.

Buku ini paling cocok dibaca oleh manajer baru yang baru pertama kali memimpin tim, terutama yang berasal dari latar belakang individual contributor tanpa pelatihan manajerial formal sebelumnya. Cari versi lengkapnya untuk mendalami bab-bab soal membangun budaya perusahaan, memimpin tim yang terus bertumbuh, dan mengelola diri sendiri di tengah tekanan kerja yang tidak sempat dibahas mendalam di sini.

Selamat! Kamu telah menyelesaikan ringkasan ini.
Baca Buku Lainnya →

Buku serupa

Cover Shape Up: Stop Running in Circles and Ship Work that Matters
Leadership & Career

Shape Up: Stop Running in Circles and Ship Work that Matters

oleh Ryan Singer

Sprint dua minggu Anda berakhir. Tapi fiturnya belum selesai, jadi Anda memindahkannya ke sprint berikutnya. Lagi. Dan lagi. Sampai tidak ada yang ingat lagi kapan sebenarnya proyek itu mulai.

15 min baca
Cover Extreme Ownership: How U.S. Navy SEALs Lead and Win
Leadership & Career

Extreme Ownership: How U.S. Navy SEALs Lead and Win

oleh Jocko Willink dan Leif Babin

Di medan perang, tidak ada alasan untuk gagal. Yang ada cuma pemimpin yang mau mengakui kesalahan, atau pemimpin yang mencari kambing hitam.

15 min baca
Cover Inspired: How to Create Tech Products Customers Love
Leadership & Career

Inspired: How to Create Tech Products Customers Love

oleh Marty Cagan

Tim engineering terbaik pun bisa habiskan setahun membangun sesuatu yang sempurna secara teknis, dan tidak ada satu pun pelanggan yang menginginkannya.

15 min baca
Cover The Hard Thing About Hard Things: Building a Business When There Are No Easy Answers
Leadership & Career

The Hard Thing About Hard Things: Building a Business When There Are No Easy Answers

oleh Ben Horowitz

Tidak ada rumus rahasia untuk hal-hal tersulit dalam membangun bisnis. Yang ada cuma pilihan, dan keberanian untuk tetap berdiri setelah memilih.

15 min baca